menulis buku ini membuatku harus membuka kembal;i banyak luka. tetapi dengan mengakuii luka, aku jadi bisa belajar bagaimana mengatasinya. juga belajar menjadi lebihkuat lagi
luasnya lautan yang lebih kuas daripada daratan seolah ingin menunjukkan luasnya kasih sayang Allah kepada Manusia.
Roman Tetralogi buru mengambil latar kebangunan dan cikal bakal nasion bernama indonesia di awal abad ke 20.
seperti hujan di hari cerah, setidak terduga itulah cinta datang menyapa
Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkyh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskinm dan nestapa.
keanehan yang dirasakan oleh GWenda pada rumah yang ia tinggalinya, entah mengapa ia merasakan masa lalu yang terdapat pada rumah itu. puncaknya pada kiasan kenangan tentang pembunuhan
namanya Ali 15 tahun kelas 10. Jika saja orangtuanya mengizinkan, seharusnya dia sudah duduk di tingkat akhir ilmu fisika program doktor di universitas ternama.
pengingat untuk jadi orang tidak putus harapan, untuk sama sama bangkit lagi, untuk sama sama memperbaiki diri lagi, dan sam sama mengejar masa depan